Beranda Keamanan BNPT dan Universitas Gelar Seminar Deradikalisasi untuk Mile...
Keamanan

BNPT dan Universitas Gelar Seminar Deradikalisasi untuk Milenial

BNPT dan Universitas Gelar Seminar Deradikalisasi untuk Milenial

BNPT dan UGM menggelar seminar deradikalisasi untuk milenial di Yogyakarta, menghadirkan akademisi, mahasiswa, dan mantan narapidana terorisme. Diskusi menyoroti pentingnya pendekatan yang tidak kaku, membedakan kritik dari radikalisme, serta perlunya ruang dialog partisipatif. Kisah mantan napi teror menjadi bahan refleksi, memperkuat semangat rekonsiliasi dan upaya preventif di kampus-kampus Indonesia.

Yogyakarta, 13 Agustus 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan seminar nasional bertema deradikalisasi di kalangan milenial. Acara yang digelar di kampus UGM ini menghadirkan mahasiswa, guru, dan tokoh pemuda untuk membahas tantangan kontemporer dalam mencegah penyebaran paham radikal. Dalam sambutannya, perwakilan BNPT memaparkan data bahwa ancaman radikalisme masih signifikan, terutama melalui platform media sosial yang menjadi ruang interaksi utama generasi muda. Namun, seminar ini tidak hanya menyuguhkan satu perspektif; para akademisi dan peserta juga diberi ruang untuk menyampaikan pandangan kritis, sehingga diskusi berlangsung dinamis dan terbuka.

Menjembatani Perspektif: Dialog Deradikalisasi dan Kebebasan Berpendapat

Dalam sesi diskusi, sejumlah dosen dari UGM dan universitas lain mengingatkan pentingnya merancang pendekatan deradikalisasi yang tidak kaku dan tetap menghormati kebebasan berpendapat. Mereka menekankan bahwa upaya penanggulangan radikalisme harus dibedakan secara jelas dari pembungkaman kritik sosial yang sah. Perbedaan antara kritik terhadap kebijakan negara dengan propaganda kekerasan menjadi salah satu topik yang paling banyak dipertanyakan mahasiswa. Berikut beberapa poin yang mengemuka dalam diskusi:

  • Posisi BNPT: Menekankan pentingnya literasi digital dan ketahanan ideologi, dengan data bahwa 70% konten radikal di Indonesia menyasar pengguna muda melalui kelompok percakapan tertutup dan kanal video daring.
  • Pandangan akademisi: Menyoroti perlunya pendekatan yang humanis dan kontekstual, menghindari stigmatisasi terhadap kelompok tertentu, serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berdialog kritis tanpa rasa takut.
  • Harapan peserta: Mahasiswa menginginkan adanya forum diskusi berkelanjutan yang tidak hanya bersifat satu arah, melainkan interaktif dan partisipatif, agar mereka dapat membedakan secara mandiri antara wacana kritis dan narasi ekstrem.
Dialog tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa upaya deradikalisasi harus beriringan dengan penguatan demokrasi dan keterbukaan informasi, bukan sebaliknya.

Pelajaran dari Pengalaman: Kisah Mantan Napi Teror dan Refleksi Kritis Milenial

Seminar ini juga menghadirkan mantan narapidana terorisme yang menceritakan perjalanan keluar dari jaringan radikal. Ia mengungkapkan bagaimana proses radikalisasi bermula dari rasa ketidakadilan, pencarian identitas, dan paparan konten ekstrem secara terus-menerus. Kisahnya menjadi bahan refleksi bagi para peserta, terutama mahasiswa yang kemudian mengajukan pertanyaan mendalam tentang pemicu dan cara mencegah perekrutan melalui media sosial. Banyak peserta mengaku bahwa sesi tersebut membantu mereka memahami kompleksitas isu radikalisme, sekaligus memperkuat komitmen untuk menjadi agen moderasi. Keterbukaan mantan napi teror dalam berbagi pengalaman dianggap sebagai langkah konstruktif yang membuka ruang rekonsiliasi, bukan sekadar stigma atau hukuman sosial.

BNPT menegaskan bahwa seminar ini adalah bagian dari upaya preventif jangka panjang, dan berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke berbagai kampus di Indonesia. Dengan pendekatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan—mulai dari lembaga negara, akademisi, mantan pelaku, hingga mahasiswa—diharapkan tercipta jembatan komunikasi yang lebih kokoh dalam menangani ancaman radikalisme tanpa mengorbankan prinsip demokrasi.

Seminar deradikalisasi ini menjadi pengingat bahwa menyelesaikan persoalan radikalisme tidak bisa dilakukan secara represif semata. Perlu adanya ruang dialog yang terus menerus, di mana setiap pihak dapat saling mendengarkan, memahami akar persoalan, dan bersama-sama merawat semangat kebangsaan. Melalui forum-forum seperti ini, generasi milenial diajak untuk tidak hanya menjadi sasaran imbauan, melainkan mitra aktif dalam menjaga stabilitas dan memperkuat nilai-nilai toleransi. Rekonsiliasi antara berbagai pandangan—antara kewaspadaan negara dan kebebasan akademik, antara pengalaman traumatis dan harapan baru—adalah tugas bersama yang hanya bisa diwujudkan dengan saling percaya dan keterbukaan.

Entitas dalam Berita
Organisasi: BNPT, Universitas Gadjah Mada
Lokasi: Yogyakarta, Indonesia
Panglima TNI: Tugas Kami Menjaga Kedaulatan, Bukan Memilih Pihak dalam Konflik Sosial
Menkopolkam Jamin Keamanan, Warga Papua Bebas Rayakan HUT RI
Kapolri Instruksikan Penyelesaian Konflik Agraria Lewat Mediasi, Bukan Kekerasan
JK Ajak Masyarakat Aceh Jaga Perdamaian Helsinki dan Stabilitas yang Telah Dicapai
Panglima TNI Imbau Masyarakat Saring Informasi di Medsos Jelang 17 Agustus