BNPT: Program Deradikalisasi Berbasis Keluarga Mulai Menunjukkan Hasil
Program deradikalisasi berbasis keluarga yang digagas BNPT mulai menunjukkan hasil positif dengan pendekatan yang melibatkan ikatan emosional antara mantan napiter dan keluarganya. Meskipun stigma masyarakat masih menjadi tantangan, BNPT menggandeng tokoh agama dan masyarakat untuk membangun dialog dan kegiatan bersama guna memperkuat reintegrasi sosial. Pendekatan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas keamanan dari akar rumput.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaporkan bahwa program deradikalisasi yang melibatkan keluarga mantan narapidana terorisme (napiter) mulai menunjukkan hasil positif. Dalam konferensi pers di Jakarta, Kepala BNPT menyebutkan bahwa pendekatan berbasis keluarga mampu mengubah pola pikir radikal karena ikatan emosional yang kuat antara napiter dengan anggota keluarganya. Program ini tidak hanya menyasar individu, tetapi juga membangun sistem dukungan di lingkungan terdekat, sehingga proses reintegrasi sosial berjalan lebih alami dan berkelanjutan.
Peran Sentral Keluarga dalam Proses Deradikalisasi
Menurut Kepala BNPT, pendekatan kekeluargaan menjadi strategi utama karena keluarga memiliki pengaruh emosional yang mendalam. Program deradikalisasi yang dijalankan mencakup tiga komponen utama: pendampingan psikologis bagi napiter dan keluarganya, pelatihan keterampilan kerja untuk membuka peluang ekonomi, serta bantuan ekonomi langsung untuk mengurangi tekanan finansial yang kerap menjadi pemicu radikalisasi. Seorang mantan napiter yang kini menjadi agen perdamaian menuturkan bahwa dukungan keluarga menjadi kunci utama proses reintegrasinya. "Tanpa istri dan anak-anak saya, mungkin saya akan kembali ke jalan yang salah. Mereka yang mengingatkan saya setiap hari tentang arti hidup damai," ujarnya dalam sesi berbagi pengalaman. BNPT mencatat bahwa pendekatan berbasis keluarga mampu menekan angka residivisme karena menciptakan lingkungan yang stabil dan mendukung perubahan perilaku secara bertahap.
Menghadapi Stigma dan Membangun Jembatan Dialog
Meski program menunjukkan hasil positif, BNPT mengakui tantangan terbesar masih ada pada stigma masyarakat terhadap mantan napiter. Banyak warga yang enggan menerima kembali mereka ke lingkungan sosial, bahkan setelah menjalani masa hukuman dan program deradikalisasi. Untuk menjembatani kesenjangan ini, BNPT menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat untuk mengadakan kegiatan bersama, seperti dialog lintas komunitas, bakti sosial, dan acara keagamaan yang mempertemukan mantan napiter dengan warga. Langkah-langkah yang dilakukan mencakup:
- Pendampingan psikologis secara berkala bagi napiter dan keluarga untuk memperkuat ketahanan mental.
- Pelatihan keterampilan kerja seperti menjahit, pertanian, dan kerajinan tangan yang dibutuhkan pasar lokal.
- Bantuan ekonomi berbasis usaha mikro untuk memulai kehidupan mandiri.
- Kegiatan bersama seperti gotong royong dan perayaan hari besar keagamaan yang melibatkan mantan napiter dan warga.
Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk membangun kepercayaan dan mengurangi jarak sosial. Tokoh agama berperan sebagai mediator yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian, sementara tokoh masyarakat membantu mengorganisir interaksi langsung agar lebih natural. BNPT menilai bahwa pendekatan dialogis dari akar rumput ini merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas keamanan jangka panjang.
Program deradikalisasi berbasis keluarga yang dijalankan BNPT membuka ruang bagi semua pihak untuk saling memahami. Meskipun masih ada stigma dan keraguan di tengah masyarakat, keterlibatan tokoh agama dan masyarakat menjadi jembatan yang menghubungkan mantan napiter dengan lingkungan barunya. Semangat rekonsiliasi ini mengingatkan bahwa setiap individu berhak mendapatkan kesempatan kedua, dan keluarga serta komunitas memiliki peran penting dalam merawat perdamaian. Dengan terus memperkuat dialog antar kelompok, diharapkan proses reintegrasi dapat berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.