Beranda › Dialog › Diskusi Terbuka: Peran Media dalam Meredam Konflik SARA
Dialog

Diskusi Terbuka: Peran Media dalam Meredam Konflik SARA

Diskusi Terbuka: Peran Media dalam Meredam Konflik SARA

Dewan Pers dan AJI menggelar diskusi terbuka di Surabaya tentang peran media dalam meredam konflik SARA. Para peserta sepakat membentuk forum pemantauan berita potensi konflik dan mendorong pemberitaan konstruktif berdasarkan kode etik jurnalistik. Langkah ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi lintas sektor menjaga stabilitas nasional melalui dialog yang berimbang.

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai ketegangan berbasis SARA, Dewan Pers bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar diskusi terbuka di Surabaya. Diskusi ini menghadirkan puluhan jurnalis, akademisi, dan perwakilan komunitas lintas agama untuk membahas peran strategis media dalam meredam konflik. Inisiatif ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan beragam perspektif demi menjaga stabilitas nasional.

Menegakkan Kode Etik sebagai Landasan Bersama

Ketua Dewan Pers menegaskan bahwa media harus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, terutama prinsip keberimbangan dan tidak memihak. Prinsip ini menjadi fondasi utama agar setiap pemberitaan tidak memperkeruh situasi yang sudah rapuh. Seorang panelis dari Universitas Airlangga menyoroti fenomena polarisasi di media sosial yang kerap memperburuk konflik SARA. Menurutnya, algoritma dan kebebasan tanpa filter seringkali menyebarkan narasi yang memecah belah. Oleh karena itu, media mainstream didorong untuk memberitakan secara konstruktif dan mengedepankan fakta penyatu. Dua sudut pandang ini menekankan pentingnya tanggung jawab jurnalis dalam menyajikan informasi yang menenangkan dan tidak provokatif. Dalam diskusi, para peserta merinci sejumlah posisi yang saling melengkapi:

  • Dewan Pers: Menegaskan kembali kode etik jurnalistik sebagai pedoman mutlak, khususnya keberimbangan dan perlindungan terhadap kelompok rentan.
  • Akademisi: Mengingatkan dampak polarisasi media sosial yang perlu diantisipasi dengan literasi digital dan verifikasi ketat.
  • Komunitas lintas agama: Mendorong pemberitaan yang merangkul keberagaman dan menekankan nilai-nilai kebersamaan.

Forum Pemantauan: Wadah Kolaborasi untuk Mencegah Konflik

Para peserta diskusi bersepakat untuk membentuk forum pemantauan berita yang berpotensi memicu konflik SARA. Forum ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara jurnalis, akademisi, dan komunitas untuk mengidentifikasi serta menangkal informasi yang memecah belah. Langkah konkret ini merupakan respons terhadap keresahan publik tentang maraknya konten provokatif di berbagai platform. Hasil diskusi akan disosialisasikan ke berbagai media daerah agar praktik peliputan semakin bertanggung jawab dan berpihak pada stabilitas. Dengan forum ini, diharapkan terbangun mekanisme deteksi dini yang bisa menjadi jembatan dialog antar kelompok sebelum ketegangan meluas.

Diskusi ini membuka pintu bagi dialog berkelanjutan antarpemangku kepentingan. Semangat rekonsiliasi yang lahir dari pertemuan ini diharapkan mampu memperkuat peran media sebagai perekat sosial. Ke depan, semua pihak diajak untuk bersama-sama menjaga narasi damai di tengah perbedaan. Media, komunitas, dan akademisi memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat kerukunan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Dewan Pers, Aliansi Jurnalis Independen, Universitas Airlangga
Lokasi: Surabaya
Yusril: Tanah Blang Padang Harus Dikembalikan sebagai Harta Wakaf Aceh
Menko Yusril Terima Audiensi DPRA, Dorong Penyelesaian Tiga Isu Strategis Aceh melalui Musyawarah
Forum Rekonsiliasi Antar-Etnis Digelar di Kalimantan Barat, Cegah Konflik Vertikal
Diplomasi Budaya Fadli Zon: Kesamaan Budaya Indonesia dan Pasifik Bisa Jadi Jembatan Perdamaian
Kanwil KemenHAM Sulbar Perkuat Kampung Redam untuk Merawat Perdamaian dan Menegakkan HAM