Beranda › Opini › JK: Perdamaian Dunia Butuh Keadilan dan Penguasaan Teknologi
Opini

JK: Perdamaian Dunia Butuh Keadilan dan Penguasaan Teknologi

JK: Perdamaian Dunia Butuh Keadilan dan Penguasaan Teknologi

Jusuf Kalla menekankan bahwa perdamaian dunia memerlukan keadilan dan penguasaan teknologi, dengan dialog sebagai pendekatan utama. Ia mengajak akademisi dan mahasiswa untuk berperan aktif dalam diplomasi perdamaian, mencontohkan keberhasilan Perjanjian Malino. Semangat rekonsiliasi yang dimulai sejak era KAA perlu terus dihidupkan melalui inovasi dan keterbukaan antar kelompok.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, kembali mengingatkan bahwa upaya menciptakan perdamaian dunia tidak bisa dilepaskan dari dua pilar utama: keadilan dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi. Dalam tausiah Tarawih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa mendamaikan pihak yang berselisih merupakan amal yang lebih utama. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi nilai perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta relevansinya di tengah dinamika konflik global saat ini.

Keadilan sebagai Fondasi Perdamaian

Menurut Jusuf Kalla, akar dari berbagai konflik—baik dalam skala lokal maupun internasional—sering kali bersumber dari rasa ketidakadilan. Ketidakadilan bisa muncul dari persoalan politik, sosial, ekonomi, hingga perebutan sumber daya alam. Ia mencontohkan sejarah Indonesia yang pernah mengalami beberapa konflik besar, seperti di Ambon, Maluku, yang sebagian besar dipicu oleh kebijakan pemerintah yang dirasakan tidak adil oleh sebagian masyarakat. Dalam konteks ini, pendekatan dialog dan keberanian untuk duduk bersama menjadi kunci utama untuk menghentikan kekerasan antar kelompok.

  • Faktor ketidakadilan dalam kebijakan publik sering menjadi pemicu utama konflik horizontal.
  • Perebutan sumber daya alam dan perbedaan pandangan politik turut memperkeruh situasi.
  • Pemahaman agama yang benar dan inklusif diperlukan untuk mencegah radikalisme dan intoleransi.
  • Perjanjian Malino (2002) di Ambon adalah contoh konkret keberhasilan dialog dalam meredakan konflik komunal.

Peran Teknologi dan Generasi Muda dalam Dialog Bangsa

Selain keadilan, Jusuf Kalla menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi syarat penting bagi bangsa untuk berkontribusi dalam diplomasi perdamaian dunia. Ia mengajak para akademisi dan mahasiswa, sebagai agen perubahan, untuk tidak hanya menjadi penonton tetapi juga pelaku aktif dalam menciptakan perdamaian dan mengembangkan inovasi. Kontribusi Indonesia dalam dialog internasional sebenarnya sudah dimulai sejak era Presiden Soekarno melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Semangat itu, menurut JK, harus terus dilanjutkan dengan pendekatan yang adaptif terhadap kemajuan zaman.

  • Mahasiswa dan akademisi didorong untuk menguasai teknologi informasi sebagai alat mediasi dan edukasi perdamaian.
  • Indonesia perlu memperkuat peran dalam forum-forum multilateral seperti ASEAN dan PBB untuk menawarkan solusi berbasis dialog.
  • Inovasi teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi rekonsiliasi dan mengurangi kesenjangan informasi antar kelompok.

Pernyataan Jusuf Kalla mengingatkan kita bahwa perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan perang, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan keadilan sebagai landasan dan teknologi sebagai jembatan komunikasi. Di saat konflik masih membayangi banyak wilayah, semangat untuk terus berdialog dan mencari titik temu antar kelompok harus menjadi prioritas bersama. Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan keterbukaan terhadap perbedaan, Indonesia dapat menjadi teladan bagi dunia dalam merajut perdamaian yang lebih kokoh.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Jusuf Kalla, Nabi Muhammad SAW, Soekarno
Organisasi: Universitas Gadjah Mada
Lokasi: Yogyakarta, Ambon, Indonesia
Opini: Membangun 'Jaring Pengaman Sosial' Dialog untuk Mencegah Polarisasi
Forum Rekonsiliasi Nasional Bahas Peran Media dalam Membangun Narasi Damai
MUI Dorong Indonesia Jadi Juru Damai Konflik Houthi-Arab Saudi
Opini: Merawat Kebhinekaan di Era Digital, Peluang dan Tantangan Dialog Virtual
Opini: Membangun Jembatan Dialog antar Kelompok Bekas Konflik di Tanah Papua