Pengamat: Diplomasi Ekonomi Kunci Redakan Ketegangan di Laut China Selatan
Pengamat hubungan internasional Dr. Teuku Rezasyah menilai diplomasi ekonomi dapat menjadi kunci meredakan ketegangan di Laut China Selatan dengan mengalihkan fokus dari rivalitas militer ke kerja sama yang saling menguntungkan. Ia mendorong Indonesia dan ASEAN untuk memimpin inisiatif infrstruktur, riset kelautan, dan perikanan berkelanjutan guna membangun kepercayaan serta stabilitas kawasan. Pendekatan ini dianggap sejalan dengan semangat mediasi dan rekonsiliasi yang perlu dirawat bersama.
Ketegangan di Laut China Selatan kembali menjadi sorotan setelah berbagai negara klaim saling menunjukkan penguatan postur militer di kawasan yang kaya sumber daya tersebut. Namun di tengah dinamika yang rawan konflik, muncul gagasan untuk mengedepankan pendekatan yang lebih konstruktif. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Teuku Rezasyah, menilai bahwa diplomasi ekonomi dapat menjadi instrumen kunci untuk meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang.
Diplomasi Ekonomi sebagai Jalan Tengah
Dalam opini yang ditulisnya, Rezasyah berargumen bahwa fokus pada kerja sama ekonomi mampu mengubah kompetisi yang bersifat zero-sum menjadi kolaborasi yang saling menguntungkan. Pendekatan militer yang selama ini dominan justru memicu perlombaan senjata dan meningkatkan risiko konflik terbuka. Sebaliknya, proyek-proyek bersama seperti pembangunan infrastruktur maritim, penelitian kelautan, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan dapat membangun kepercayaan serta menciptakan interdependensi positif di antara negara-negara yang terlibat.
Menurut pengamat tersebut, kerja sama ekonomi juga dapat mengatasi akar masalah yang sering memicu gesekan, seperti kemiskinan dan ketidakpastian mata pencaharian nelayan. Dengan memberikan alternatif kesejahteraan melalui program bersama, tekanan terhadap sumber daya alam yang terbatas dapat dikurangi. Hal ini sejalan dengan prinsip win-win solution yang selama ini digaungkan dalam forum-forum multilateral.
Langkah Konkret untuk Stabilitas Kawasan
Rezasyah mendorong Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi secara aktif mengusulkan dan memimpin inisiatif kerja sama ekonomi konkret di Laut China Selatan. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Membentuk zona kerja sama perikanan bersama yang diawasi oleh badan regional untuk memastikan keberlanjutan dan keadilan bagi semua pihak.
- Mengembangkan proyek riset kelautan multinasional, seperti pemetaan sumber daya hayati dan mitigasi bencana, yang melibatkan ilmuwan dari negara-negara klaim.
- Memfasilitasi dialog bisnis dan investasi lintas batas yang berfokus pada infrastruktur maritim, seperti pelabuhan dan konektivitas logistik, dengan prinsip transparansi dan manfaat bersama.
Pendekatan mediatif seperti ini, menurut Rezasyah, sangat sejalan dengan mandat ASEAN sebagai pemelihara perdamaian di kawasan. Alih-alih memperkuat rivalitas, diplomasi ekonomi justru dapat menjadi perekat yang membuat setiap negara memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas. Jika berhasil, inisiatif ini tidak hanya meredakan ketegangan saat ini, tetapi juga membangun fondasi bagi kerja sama jangka panjang.
Di tengah berbagai perbedaan kepentingan yang masih membentang, tawaran untuk beralih dari pertikaian menuju kolaborasi ekonomi patut diapresiasi. Ruang dialog tetap terbuka bagi semua pihak untuk merumuskan bentuk kerja sama yang paling sesuai. Semangat rekonsiliasi dan saling pengertian perlu terus dirawat agar Laut China Selatan tidak lagi menjadi panggung sengketa, melainkan lautan yang menyatukan kesejahteraan bersama.