Beranda › Keamanan › Polri Gencarkan Program 'Police Goes to School' untuk Cegah...
Keamanan

Polri Gencarkan Program 'Police Goes to School' untuk Cegah Tawuran dan Ujaran Kebencian

Polri Gencarkan Program 'Police Goes to School' untuk Cegah Tawuran dan Ujaran Kebencian

Program Police Goes to School dari Polri diperbarui untuk mencegah tawuran pelajar dan ujaran kebencian melalui dialog antarsekolah di sepuluh kota rawan konflik. Meski angka tawuran diklaim turun 24 persen, pengamat mengingatkan perlunya pendidikan karakter berkelanjutan. Kolaborasi antara polisi, guru, psikolog, dan tokoh pemuda menjadi kunci dalam membangun rekonsiliasi dari lingkungan pendidikan.

Program 'Police Goes to School' dari Kepolisian Republik Indonesia kembali menjadi sorotan sebagai upaya mencegah tawuran pelajar dan penyebaran ujaran kebencian di kalangan remaja. Program yang diperbarui ini menyasar sekolah menengah di sepuluh kota yang dinilai rawan konflik antarpelajar, sekaligus berpotensi menjadi tempat berkembangnya ujaran kebencian secara daring. Tidak sekadar memberi penyuluhan hukum, Polri merancang sesi dialog langsung antara siswa dari berbagai latar belakang sekolah dan suku, sebagai langkah awal membangun pemahaman bersama dan meredakan ketegangan yang sudah mengakar.

Membangun Jembatan Dialog Antarpelajar

Di Jakarta Timur, salah satu sesi dialog berhasil mempertemukan siswa dari SMK favorit dengan siswa dari SMA pinggiran yang kerap terlibat bentrok. Kepala Sekolah setempat mengapresiasi pendekatan persuasif yang digunakan polisi, karena mampu mencairkan suasana yang sebelumnya penuh prasangka. Namun, sejumlah guru mengingatkan agar program ini tidak menjadi ajang promosi institusi semata, melainkan benar-benar berfokus pada resolusi konflik jangka panjang. Catatan ini menjadi masukan penting agar dialog antarpelajar berjalan substantif dan tidak hanya bersifat seremonial.

Menanggapi hal tersebut, Polri menggandeng psikolog dan tokoh pemuda untuk menyusun modul mediasi konflik yang kontekstual. Modul ini dirancang agar setiap sesi dialog dapat berjalan lebih terstruktur dan bermakna. Pendekatan mediasi yang digunakan tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga memberikan ruang bagi kelompok yang jarang bertemu dalam suasana nonkonflik untuk saling mendengarkan. Dengan begitu, stereotip yang kerap menjadi pemicu tawuran dan ujaran kebencian dapat dikurangi secara bertahap.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Stabilitas

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari lingkungan pendidikan, dan program ini merupakan salah satu bentuk komitmen Polri dalam membangun generasi yang lebih toleran. Pihaknya mencatat bahwa sepanjang tahun ini, kasus tawuran pelajar diklaim turun sebesar 24% secara nasional. Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan mengingatkan agar penurunan angka tersebut tidak membuat program menjadi longgar. Menurut mereka, keberhasilan ini tetap perlu diperkuat dengan pendidikan karakter yang berkelanjutan dan keterlibatan aktif guru, orang tua, serta komunitas pemuda.

Modul mediasi konflik yang disusun bersama psikolog dan tokoh pemuda dirancang agar dapat diadaptasi oleh sekolah di berbagai wilayah dengan latar belakang sosial yang berbeda. Beberapa poin penting yang ditekankan dalam modul tersebut meliputi:

  • Pengenalan mekanisme dialog nonkekerasan dan teknik mendengarkan aktif untuk membangun rasa saling percaya.
  • Pemahaman tentang dampak ujaran kebencian, baik secara langsung maupun di media sosial, serta cara mengelola emosi saat menghadapi perbedaan.
  • Simulasi mediasi antarkelompok yang melibatkan siswa dari sekolah yang berseberangan, untuk mempraktikkan resolusi konflik secara langsung.

Seorang guru dari SMA pinggiran di Jakarta Timur mengaku optimistis dengan pendekatan dialog yang ditawarkan. Namun, ia menekankan bahwa dialog harus terus diperkuat agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial belaka. Penguatan tersebut bisa dilakukan melalui pendampingan rutin, evaluasi berkala, dan keterlibatan orang tua dalam proses mediasi. Dengan demikian, upaya mencegah tawuran dan ujaran kebencian tidak hanya menjadi tugas Polri, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesediaan semua pihak untuk saling mendengarkan. Dialog antarpelajar yang difasilitasi Polri, guru, psikolog, dan tokoh pemuda adalah langkah awal yang perlu dirawat bersama. Jika setiap sekolah mau membuka ruang perjumpaan yang aman dan setara, maka tawuran dan ujaran kebencian bukan lagi menjadi warisan masa depan. Rekonsiliasi antar kelompok dimulai dari bangku pendidikan, dan semua pihak memiliki peran untuk menjaganya.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Listyo Sigit Prabowo
Organisasi: Polri
Lokasi: Jakarta Timur
Panglima TNI Tekankan Operasi Militer Selalu Diiringi Aksi Kemanusiaan
Kapolri: Stabilitas Keamanan Nasional Terjaga Berkat Kolaborasi Masyarakat
KSAD Tandyo Ungkap Arahan Prabowo Percepat Program Pemerintah hingga soal Papua
Panglima TNI: Penugasan TNI di Papua Tetap Mengutamakan Pendekatan Kemanusiaan
Sinergi TNI-Polri Sukses Damaikan Warga Lewat Jalur Kekeluargaan di Belu