Wagub Papua Tengah Serukan Persatuan, Minta Konflik Antarkelompok di Mimika Diakhiri
Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menyerukan penghentian konflik antarkelompok di Mimika dan memperkuat persatuan melalui dialog serta mediasi. Konflik antara kelompok Dang dan Newegalen sejak Oktober 2025 memicu korban jiwa dan mengganggu stabilitas, namun berbagai upaya rekonsiliasi adat dan mediasi terus dilakukan. Sinergi antara pemerintah, aparat, tokoh adat, dan masyarakat menjadi kunci untuk memutus siklus kekerasan dan membuka jalan pembangunan yang damai.
Konflik antarkelompok yang berulang di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali menjadi perhatian serius berbagai pihak. Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika, Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, menyerukan penghentian kekerasan dan penguatan persatuan di tengah masyarakat. Seruan ini disampaikan sebagai respons atas konflik berkepanjangan antara kelompok Dang dan Newegalen di Distrik Kwamki Narama yang telah berlangsung sejak Oktober 2025, menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, serta mengganggu stabilitas wilayah.
Dialog dan Mediasi: Upaya Merajut Kembali Persatuan
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan telah berupaya meredam ketegangan melalui berbagai jalur, antara lain mediasi oleh kepolisian dan pendekatan kearifan lokal. Ritual adat seperti patah panah telah dilakukan sebagai simbol perdamaian, namun tantangan masih terletak pada keberlanjutan rekonsiliasi. Kelompok Dang dan Newegalen memiliki sejarah panjang yang membutuhkan pendekatan lebih mendalam, tidak hanya seremonial, melainkan juga dialog berkelanjutan yang melibatkan tokoh adat, pemuda, dan perempuan. Beberapa langkah yang telah dan perlu diperkuat meliputi:
- Penguatan mediasi berbasis komunitas dengan melibatkan tokoh adat dari kedua kelompok.
- Pembentukan forum dialog rutin yang difasilitasi pemerintah dan aparat keamanan.
- Pemulihan trauma bagi korban dan keluarga melalui layanan psikososial.
- Penegakan hukum yang adil terhadap pelaku kekerasan tanpa memihak.
Deinas Geley menegaskan bahwa konflik ini adalah perang saudara yang tidak menguntungkan siapa pun. Ia mengingatkan bahwa kekerasan hanya menghambat pembangunan dan menimbulkan kerugian bersama, terutama bagi warga sipil yang tidak berdosa.
Sinergi Multipihak untuk Stabilitas dan Pembangunan
Pemerintah Provinsi Papua Tengah menekankan bahwa pembangunan daerah membutuhkan dukungan seluruh komponen masyarakat. Sinergi antara Pemerintah Daerah, DPRK, TNI, Polri, serta tokoh adat dan agama menjadi kunci utama menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Tanpa stabilitas, program pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan sulit berjalan optimal. Wagub mengajak semua pihak untuk tidak membiarkan perbedaan masa lalu menghalangi masa depan bersama. Komitmen kolektif untuk tidak mengulangi kekerasan, serta mengedepankan musyawarah, adalah langkah strategis memutus siklus konflik yang telah lama membelit Mimika.
Dalam konteks Papua yang kaya akan keberagaman, rekonsiliasi antarkelompok bukanlah sekadar agenda politik, melainkan kebutuhan mendesak untuk mewujudkan kesejahteraan. Pemerintah berharap peringatan HUT Mimika ke-30 menjadi momentum introspeksi dan kebangkitan semangat persatuan. Masyarakat diimbau untuk lebih mengutamakan dialog ketimbang kekerasan, karena hanya dengan jalan damai Papua dapat melangkah maju.
Ke depan, diperlukan komitmen bersama dari semua pihak untuk terus membuka ruang dialog dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Rekonsiliasi bukanlah titik akhir, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan partisipasi aktif setiap individu. Dengan mengedepankan persatuan di atas perbedaan, masyarakat Mimika dan Papua Tengah pada umumnya memiliki peluang besar untuk membangun masa depan yang lebih harmonis dan sejahtera.